Apakah Anda Orangtua “Helikopter”


Pengasuhan “helikopter” atau orangtua “helikopter” merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan sikap orangtua yang selalu mengatur anak sampai ke hal terkecil sekalipun, bersikap terlalu protektif sehingga selalu membayangi anak di mana dan kapan saja.

Pengasuhan ala helikopter seperti ini justru tidak menumbuhkan kemandirian anak. Orangtua “helikopter” yang bersikap paranoid, sebenarnya adalah mereka yang tidak mampu mengatasi rasa khawatirnya terhadap anak.

Anda lah yang selalu menghubungi pengajar preschool si kecil untuk mengeluhkan berbagai hal. Termasuk protes ketika ada anak lain yang menyerobot antrian dan membuat anak Anda tergeser ke belakang. Anda lah yang tak merasa yakin si kecil bisa membersihkan dirinya sendiri di toilet, dan Anda membersihkannya kembali untuk membuat Anda merasa lebih tenang. Hal-hal seperti inilah yang kerap dilakukan orangtua helikopter. Kalau Anda merasa memiliki kebiasaan ini, sebaiknya hentikan mulai sekarang.

Pahami pengasuhan helikopter dan tinggalkan.

Cobalah ingat kembali ke masa kecil Anda. Bisa jadi orangtua Anda tidak terlalu protektif seperti Anda. Banyak faktor yang membuat orangtua masa kini cenderung lebih khawatir, cemburu, protektif terhadap anaknya. Seperti faktor teknologi, ekonomi, dan sosial. Anda harus menghentikan pengasuhan seperti ini. Carilah informasi yang tepat untuk mengasuh anak. Membludaknya informasi melalui dunia maya dan berbagai media lainnya, dapat membantu Anda.

“Anda bisa mencari informasi di internet untuk menemukan hal-hal yang menakutkan yang Anda khawatirkan terjadi pada anak. Anda juga bisa menggali berbagai macam penyakit yang mungkin bisa dialami anak. Dengan memiliki informasi yang tepat, Anda tidak memberikan ruang pada rasa takut dan khawatir,” jelas Christie Barnes, penulis The Paranoid Parents Guide: Worry Less, Parent Better, and Raise a Resilient Child.

Margaret Nelson, profesor sosiologi Middlebury College, Vermont, dan penulis buku Parenting Out of Control: Anxious Parents in Uncertain Times mengatakan sikap orangtua yang terlalu protektif justru meningkatkan kecemasan pada anak dan membuatnya depresi.

“Meski Anda telah menyiapkan finansial dan berbagai fasilitas untuk anak, Anda tetap merasa khawatir anak tidak menduplikasi kesuksesan yang Anda miliki saat ini. Tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa yang sebaiknya Anda siapkan untuk anak dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak. Temukan jawabannya, karena jika tidak orangtua akan terus menerus menyediakan berbagai hal termasuk bantuan yang berlebihan untuk anak,” jelas Nelson.

Mundur perlahan.

Waktunya untuk mundur perlahan dari sikap Anda yang terlalu mengawasi anak termasuk terlalu protektif. Analoginya, jika Anda adalah pilot helikopter, mulailah untuk menyerahkan izin terbang, dan tinggalkan helikopter Anda meski Anda merasa nyaman dengannya.

Studi terkini di North Carolina State University, menunjukkan anak-anak yang diasuh dengan sikap protektif orangtua yang berlebihan cenderung takut melakukan permainan yang sifatnya spontan dan berhubungan dengan fisik. Para peneliti memelajari hal ini dari orangtua dan anak di 20 taman bermain berbeda selama dua bulan.

Penelitian juga dilakukan para psikolog dari University of Washington, melibatkan lebih dari 200 anak dan ibunya, berlangsung tiga tahun. Temuannya, ketika anak sudah memiliki kontrol diri yang baik, namun diasuh oleh heli-mom dengan terlalu banyak arahan dan tidak menumbuhkan kemandirian, justru anak-anak ini berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Anak-anak ini berusia sembilan. Namun frustasi pada anak dapat terjadi di usia berapa pun dengan sikap orangtua yang terlalu mengarahkan dan protektif berlebihan.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan orangtua?

Nelson menyarankan sebaiknya orangtua terus mencari tahu cara terbaik untuk melepaskan dirinya dari sikap terlalu protektif terhadap anak. Meskipun, sebuah studi menunjukkan adanya keterkaitan antara masalah personal orangtua bahkan masalah pernikahan, dengan sikap protektifnya terhadap anak. “Fokuslah mencari informasi untuk menemukan cara terbaik melepaskan pengasuhan helikopter, bukan pada masalah personal,” jelasnya.

Orangtua pasti menginginkan agar anak bisa tumbuh menjadi anak yang aktif, ceria, berani bicara, dan terbuka pada orangtuanya. Namun kenyataannya, semakin anak tumbuh besar, mereka justru semakin tertutup dan menjauh dari orangtua. Komunikasi antara orangtua dan anak menjadi terhambat, karena anak sering menutup diri dan enggan untuk menceritakan apa yang dialaminya sehari-hari. Padahal komunikasi ini sangat berguna untuk membantu anak berbagi cerita dan pengalaman, serta mengatasi masalah yang mereka hadapi dalam hidup.
Agar anak menjadi lebih terbuka pada Anda, ini yang bisa Anda lakukan:

1. Jangan memaksa
Tak ada orang yang senang dipaksa, termasuk dipaksa untuk mengatakan hal-hal yang tak ingin dibicarakan. Posisikan diri sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara. Bersikaplah tenang, terbuka, dan tidak mendesak. Biarkan mereka merasa nyaman dan ingin berbagi dengan Anda tanpa ada tekanan.

2. Jangan menyerah

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak butuh waktu yang cukup lama untuk bisa merasa nyaman dan mulai membuka diri. Jadi bersabarlah, dan jangan menyerah untuk membuat anak percaya pada Anda dan berani bicara.

3. Hindari kritik

Salah satu hal yang tak disukai anak ketika bicara dengan orangtuanya adalah mendengar kritik yang dilontarkan orangtua. Tanpa Anda sadari, mungkin Anda sering melempar kata-kata yang menyalahkan atau menghakimi anak. Jangan buat diri seperti hakim, sebaliknya, buat kalimat yang bisa memotivasi anak lebih baik.

4. Dengarkan mereka
Tak semua anak merasa perlu berbicara secara khusus dengan orangtuanya. Bagi anak, suasana sepi, tenang, dan hanya berdua orangtuanya, menimbulkan suatu perasaan tegang yang tak menyenangkan. Anak-anak, khususnya laki-laki, lebih responsif untuk berbicara ketika mereka sedang beraktivitas. Misalkan di sela-sela main sepak bola, menonton film, menggambar, dan lainnya. Gunakan saat-saat aktif mereka, karena di saat seperti ini mereka bisa lebih mudah mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.

5. Bicarakan tentang kegiatan favorit anak
Cobalah untuk memulai pembicaraan seputar minat dan kesukaan anak, misalnya tentang koleksi pernak-pernik Angry Birds-nya, lagu yang sedang disukainya, atau hal-hal lainnya. Hal ini bisa menjadi pembuka yang tepat untuk membahas hal-hal lain yang terjadi dalam kehidupan anak.

6. Ajukan pertanyaan spesifik
Mengajukan pertanyaan untuk membuka obrolan memang sangat efektif. Namun hindari pertanyaan yang terlalu umum seperti, “Bagaimana tadi di sekolah?”. Cobalah untuk mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya “Main apa saat istirahat tadi?”. Dengan menanyakan hal-hal yang spesifik, kemungkinan Anda akan mendapat jawaban yang lebih memuaskan, bahkan celotehan lain yang tak terduga.

7. Masuki “dunia” anak
Dengan mengikuti dunia anak, Anda akan lebih mudah untuk memancing anak bicara. Saat orangtua mampu masuk ke dalam dunianya, anak akan merasa lebih nyaman dan santai. Cari waktu dan tempat yang pas untuk memulai pembicaraan dengan anak.

8. Atur waktu keluarga
Saat-saat kebersamaan dengan keluarga merupakan waktu yang tepat untuk membantu anak lebih terbuka pada Anda. Sediakan waktu khusus untuk berlibur, atau coba saja makan malam bersama keluarga untuk membuka obrolan yang lebih intim satu sama lain.

9. Duduk berdampingan
Beberapa anak, khususnya anak laki-laki, seringkali lebih mudah menerima pembicaraan dalam posisi duduk berdampingan. Dengan duduk bersebelahan, anak merasa posisinya sejajar dengan Anda. Sedangkan duduk berhadapan selama ngobrol, terutama ketika Anda sengaja mengajaknya berbicara, cenderung membuat anak merasa sedang disidang.

Sumber: GALTime

Perihal dzumanji
Tinggal di pinggiran kota Jakarta, keseharian bekerja, belajar dan menjalani hidup. "Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru" Einstein tak pernah takut dengan kesalahan. Tak perlu alergi dengan kesalahan. Catat baik-baik, KESALAHAN bukan KEGAGALAN. Dua hal tadi berbeda. Kesalahan-kesalahan dapat membantu Anda menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih cerdas. "jika Anda menggunakannya dengan tepat tentunya". Carilah sesuatu berbau baru “something new“ dari kesalahan Anda. Seperti sudah dibilang sebelumnya, jika ingin sukses, belajar lebih banyak dari kesalahan Anda. Jika anda percaya sesuatu itu tidak mungkin,pikiran anda akan bekerja bagi anda untuk membuktikan mengapa hal itu tidak mungkin.akan tetapi jika anda percaya,benar-benar percaya,sesuatu dapat dilakukan,pikiran anda akan bekerja bagi anda dan membantu anda mencari jalan untuk melaksanakannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s